Category: Kyai lentik

Kyai lentik

Dalam dunia ini semua sudah digariskan, dan jodoh pertemuan itu kadangkala seseorang sudah lama bersama runtang runtung, tapi kadang antara yang satu tidak bisa mengambil manfaat dari yang lain, karena secara tertulis di lauhil mahfudz keduanya tidak dijodohnya untuk saling mengambil manfaat dari yang lain, tapi kadang juga yang baru sekali bertemu, kemudian Alloh menghendaki kepada keduanya untuk saling bisa memberi manfaat, walau tak banyak pembicaraan terucap dalam pertemuan, dan tak banyak pekerjaan dijalankan bersama, itu mungkin bisa saja terjadi pada siapa saja, dan di manapun juga, tanpa harus diawali perencanaan, atau disertai suatu kisah terlebih dahulu, yang jelas segala kejadian yang telah terjadi, kejadian itu bernilai atau tidak, itu tergantung kita mampu tidak mengambil pelajaran di dalamnya, dan kejadian itu akan mendewasakan kita dalam berfikir, dan lebih bijak mengambil keputusan.

Dan ternyata setelah menjalankan amaliyah, kejadiannya benar-benar terjadi, Arifuddin mengalami kecelakaan, pas di sebuah tikungan, sedang dia mengendarai motor, motornya ditabrak motor lain, pas di tengahnya, Arifuddin terpental ke aspal, dan anehnya dia sama sekali tak lecet sedikitpun, sedang yang menabrak sampai luka sangat parah, malah selesai kecelakaan dia datang kerumahku, untuk menceritakan pengalamannya itu.

Tentu saja kejadian itu membuat Arifudin makin yakin dengan ikut dzikir aktif di majlisku, dan bukan itu saja Ibunya yang tinggal di lain kabupaten dengan majlisku, dimintanya juga ikut pengajian dzikir di majlisku.

Dan kemantapan itupun dirasakan oleh ibunya, Ibunya Arifudin juga punya anak perempuan yang tinggal di Jakarta, dan di saat-saat terakhir, dia selalu mimpi buruk, dia mimpi anak perempuannya itu diikat dengan rantai oleh seorang lelaki tua, sehingga anak perempuannya itu tak bisa apa-apa, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dia sangat kawatir dengan mimpinya itu, maka dia menghubungi anak perempuannya yang ada di Jakarta, jangan-jangan telah terjadi apa-apa yang tidak diinginkan.

Tapi anak perempuannya yang bernama Aisyah itu tak mau cerita tentang apa yang terjadi, sementara Aisyah sendiri sebenarnya selama setahun ini telah mengalami hal yang dia sendiri tak mengerti, dia jadi begitu malas menjalankan sholat, dia malas mengaji, dia malas menjalankan ibadah, bahkan dia merasa benci bila melihat suaminya, tapi Aisyah sendiri tak tau kenapa dia sampai menjadi seperti itu, sampai akhir-akhir ini dia muntah darah, dan cepat-cepat dia periksakan diri ke dokter, tapi setelah diperiksa, ternyata sama sekali tak ditemukan penyakit di dalam tubuhnya, sehingga membuat Aisyah dan suaminya bingung, seharusnya kalau sampai muntah darah pastilah ada penyakit di dalam tubuhnya, tapi ternyata menurut dokter Aisyah sehat-sehat saja.

Sampai ibunya menelponnya untuk mengikuti pengajian dzikir di majlisku. Mana Pekalongan Jakarta jauh, dan aku tak bisa meninggalkan pekerjaan. Sementara itu, sebelum Aisyah datang ke rumahku, malamnya aku mimpi, aku melihat perempuan, ya Aisyah itu datang ke rumahku, dan ku dapati banyak jin di tubuhnya, dan jin itu dikirim oleh seorang tua yang kerjanya di sawah. Aku tak memperdulikan mimpiku itu, sampai besoknya, sore hari Aisyah datang ke rumahku untuk mengikuti pengajian rutin tiap minggu kliwon, aku heran karena Aisyah ini perempuan yang ada di dalam mimpiku, ketika bertemu denganku, Aisyah bercerita tentang muntah darahnya, dan apa yang dialami selama setahun belakangan ini.

Ku pinta dia mengulurkan pergelangan tangannya, dan ku pegang, dan langsung saja dia merasa ingin muntah, pertanda interaksi jin yang ada di dalam tubuhnya kontak, cepat-cepat ku lepaskan tangannya, karena waktu sudah sore, karena ku perhitungkan tak akan banyak waktu untukku mengeluarkan jin di dalam tubuhnya.

Malamnya Aisyah mengkuti pengajian dan dzikir bersama, tapi dia merasa lemas di tengah-tengah dzikir, dan ku biarkan saja, sampai besoknya dia datang lagi dari rumah kakaknya, dan bertemu denganku, dan minta ku obati, sekalian mau meminta amaliyah agar bisa dijalankan, lalu aku ambilkan amaliyah dasar dzikir pondasi yang biasanya ku berikan pada orang yang meminta amalan kepadaku.

Ku katakan dzikir pondasi, sebab itu bagiku adalah dzikir permulaan sebelum seseorang menjalankan dzikir tingkatan dalam thoreqoh, dzikir itu tak bedanya membangun rumah, diawali dengan pondasi, dan diusahakan pondasi itu kokoh dan kuat, makin kuat pondasi seseorang maka jika rumah itu makin tinggi dan bertingkat, maka tidak akan ada bahaya bagi orang yang menjalankan dzikir, yang sering terjadi, seseorang itu menjalankan dzikir dan wirid selalu diambil pokoknya, tanpa pondasi lebih dulu, maka makin tinggi dzikir yang dijalankan, hampir bisa dipastikan kemudian akan terjadi masalah, kalau tidak orangnya yang tak kuat, kemudian menjadi gila, ya kebanyakan kemudian dikuasai jin, dan disesatkan.

Awalnya aku juga tak berprasangka apa-apa, kertas tulisan dzikir pondasi ku serahkan kepada Aisyah, tapi setelah Aisyah itu memegang kertas dzikir, tiba-tiba tangannya bergetar tak bisa dikendalikan, kedua tangannya bergetar tak karuan, dia juga heran. Aku sendiri heran, kenapa kok jadi seperti itu, tiba-tiba tubuhnya terjengkang dan dia mengalami kesurupan, seketika suaranya berubah.

Karena ku tanya tak mau menjawab, maka segera jin ku keluarkan, tapi baru saja jin ku keluarkan, sudah berganti dengan jin yang baru, wah banyak juga jin yang di dalam, pikirku. Maka ku keluarkan lagi jin yang kedua, dan kembali lagi, ada jin lagi yang di dalam, sampai tiga kali ku keluarkan jin yang di dalam, ku lihat Aisyah lelah, maka ku suruh saja istirahat dan mandi di rumah kakaknya dulu, tapi baru saja dia pulang mandi di rumah kakaknya, aku dipanggil kakaknya, karena lagi-lagi Aisyah kerasukan, kali ini jin yang lain lagi.

Setelah jin yang di video itu mencoba menyerangku, lalu tangan Aisyah ku tempelkan ke dadaku dan kepanasan, juga ilmunya musnah, maka sampai besoknya dia tak kerasukan lagi, sampai besoknya dia datang lagi ke rumahku, ingin ku cek masih ada tidak jin di dalam tubuhnya, maka ku arahkan tapak tanganku ke arah dadanya berjarak 15 cm, dan seketika yang ada di dalam tubuhnya bereaksi.

Kali ini bukan tertawa-tawa seperti suara nenek-nenek, tapi menggerung-gerung dengan suara lelaki. Aku heran juga, berarti ilmu orang ini lumayan tinggi, pasti dia memakai ilmu raga sukma, tapi aku tak perlu gentar, maka ku serang dia, dan juga videonya bisa disaksikan di youtube, bagaimana lelaki yang dalam tubuh Aisyah itu menyerah dan tak sanggup melawanku, sebenarnya juga bukan aku ini orang yang sakti, tapi karena bagiku orang yang bersandar pada Alloh, maka Alloh itu lebih sakti dari jin manapun, dan ilmu manapun, jika kita bersandar pada Alloh kurasa sejauh mana kita bersandar dan tawakal maka Alloh pasti akan memberikan pertolongan.

Dua hari kemudian kembali ke Jakarta. Kalau lagi urusannya santet dan jin, maka biasanya urusannya kembali yang datang juga seperti itu, setelah masalah Aisyah selesai, datang lagi perempuan setengah baya, dia bercerita kalau mengalami sakit sudah lama, tapi begitu juga jika diperiksakan ke dokter maka tidak ditemukan sakit sama sekali, dia bercerita kalau sudah kemana saja mencari obat, tapi tak juga ada kesembuhan didapat, namanya bu Maslahah, menurut ceritanya, di tubuhnya sering ada dirasakan sesuatu yang berjalan, tak tau apa itu, dan sakitnya sampai ke sekujur tubuh, dari kepala, dan mata tak bisa melihat, sampai gigi juga rasanya copot semua, dan dadanya sesak katanya sulit bernafas, juga jika berdiri kemudian limbung, dan yang aneh di bagian-bagian kulitnya ada bundaran selebar gelas menghitam, dan gatalnya minta ampun.

Kucoba pegang pergelangan tangannya, dia langsung ingin muntah, wah kayaknya seperti penyakitnya Aisyah, pikirku. Tapi setelah ku coba deteksi, aneh tak ku rasakan getaran apa-apa, juga dia tidak mau muntah lagi, cuma tubuhnya merasa kepanasan, dan yang aneh setengah jam kemudian di pergelangan tanganku ada warna hitam, sebesar kelereng, aku heran, dan ku pegang rasanya nyeri.

Maslahah hanya ku beri air, dan alhamdulillah besoknya dia sms katanya penyakitnya sudah tak dirasakan lagi dan tubuhnya sudah enakan, tapi dua hari kemudian dia datang lagi, katanya penyakitnya dirasakan lagi, dan ku coba beri air lagi, belum tau bagaimana perkembangannya selanjutnya, semoga saja dia sembuh, dan tak kambuh lagi penyakitnya.

Assalamualaikum pak Kyai, saya mau minta tolong,saya punya beberapa masalah yg sudah lama sekali sy alami dan belum dapat solusinya. Setelah tamat sma dia kemudian kuliah di jawa.

Sampai kemudian aku dengar kalau dia sudah menikah disana. Masalahnya yg sy alami sekarang sy itu kalau membeli pakaian kalau tidak kemudaan ya ketuaan warna dlam segi usia dan kalau sy mau membeli itu keluarganya semua seperti ada di hati sy ya itu kknya,ibunya, adeknya,bpknya.

Ninkeyga galmada

Gitu pak kyai. Saya punya masalah kesehatan sy minta disembuhkan juga dari masalah ini. Begini pak kyai.Pagi belumlah terang, lereng gunung putri masih diselimuti kabut tebal, dingin masih menusuk tulang. Di lereng gunung sebelah selatan, nampak berjejer kobong pondokan santri tak teratur. Sayup-sayup terdengar suara wirid para santri di bagian tengah pondokan, rumah bambu yang sederhana, dinding yang dianyam dari bambu dengan rapi.

Juga alas hamparan dari bambu yang dipukul hingga pecah, kemudian dihamparkan dengan rapi, sehingga kalau diinjak kaki akan terdengar bunyi derit bambu yang khas.

Nampak para santri yang jumlahnya 15 orang duduk melingkar khusuk dalam wiridnya. Skip to content. Sang Kyai yang juga ada dalam lingkaran juga duduk bersila, orang tak akan menyangka mana Kyai mana murid. Sebab semua sama, hanya ketika Sang Kyai mengangkat tangannya dan wirid semuanya berhenti. Kemudian Sang Kyai menyuruh wirid yang lain, santri pun melanjutkan.

Orang tak akan menyangka yang disebut Kyai ini seorang remaja, kira-kira umurnya 12 tahun, kulitnya putih bersih, dengan wajah biasa, namun memancarkan wibawa yang tiada taranya.

kyai lentik

Presiden sekalipun akan dibuat tunduk bila berdiri di hadapannya. Di sebelah rumah Sang Kyai ada rumah bambu lagi yang lumayan besar, dindingnya dari kerai, yaitu bambu yang disisik halus kecil-kecil kemudian disusun rapi dengan tambang, sehingga bisa dibuka tutup dengan digulung, dalamnya juga beralaskan bambu seperti di rumah Kyai, nampak banyak orang lelaki tiduran dengan nyenyak.

Mereka ada sekitar 20 orang, kesemuanya lelaki. Karena tempat para tamu perempuan ada tempatnya sendiri. Para tamu ini bukanlah orang yang biasa-biasa. Seperti pak Udin, yang seorang tentara yang punya kedudukan di angkatan udara.

Pak Yusup yang seorang jaksa dari Jakarta, juga ada para pemilik perusahaan raksasa di Indonesia. Ada lagi yang aku tidak tahu, kata temanku dua orang menteri, seorang duta besar, juga ada artis, tukang cukur rambut, tukang es keliling dan lain-lain, semua tidur sama kedudukannya.

Siapakah sebenarnya Sang Kyai, akupun tak tau pasti. Kyai yang tuturnya lembut berkasih sayang kepada siapa saja. Pagi itu seperti biasa, mbok Titing, janda tua penjual sarapan pagi nasi uduk lewat di depan rumah Kyai. Umur tua dan tubuh yang mulai bongkok ditambah rinjing di punggungnya yang penuh dengan nasi uduk bungkus diikat dengan selendang, tangan kanannya menjinjing tas krawangan berisi lauk pauk. Seperti biasa pula, nenek tua itu berhenti di depan pintu Kyai sambil menawarkan dagangannya, sekalipun dia tau bahwa Kyai Lentik tiap hari puasa, nenek itu hanya menunggu Kyai menjawab teriakannya menawarkan dagangannya, meser Kyai?

Dan cuma itu jawaban Kyai, sudah membuat girang bukan main, dan segera berlalu, tersenyum bahagia dan tak sampai setengah jam dagangannya sudah habis ludes dibeli orang. Nenek itu sangat murung, apabila dia menawarkan dagangannya di depan pintu Kyai, tapi Kyai ternyata pergi, itu baginya berarti perjuangan seharian menawarkan dagangan, dan itupun belum tentu habis, itulah tiap pagi yang terjadi di pondok Pacung, lereng gunung putri.

Masih banyak kejadian yang kadang tak masuk di akal di balik kesederhanaan Sang Kyai.

Kisah Sang Kyai 1

Waktu maghrib itu, santri yang menjalankan puasa, telah selesai berbuka dengan singkong rebus dan air putih, seperti biasa juga Kyai ikut berbuka dengan kami dengan beralaskan daun pisang singkong yang sudah masak dituang di atas daun pisang dan dinikmati bersama-sama sambil jongkok, tak ada yang istimewa, tak ada pecel lele Lamongan, rendang Padang, soto Madura, soto babat bahkan nasi pun tak ada.

Tapi tak pernah kami perduli, itu hanya makan, lebih baik makan apa adanya tapi untuk beribadah, daripada makan yang enak-enak ujung-ujungnya untuk berbuat maksiat. Setelah makan kami mengelilingi toples yang berisi tembakau, itu barang berharga kami, tembakau oleh-oleh dari Lukman yang pulang dari ngejalani ngedan, kami semua mengalami, yaitu pergi tanpa bekal, menyerahkan diri di kehendak Allah, pakaian compang-camping, sambil terus di hati mengingat Allah, berjalan kemanapun kaki melangkah, tanpa tujuan kecuali Allah, kalau lapar tak boleh meminta pada siapapun kecuali Allah, kadang mencari makan dari mengorek sampah, tidur kadang di hutan, sawah juga kuburan.

Nah, pada waktu itu setiap ada yang ngejalani, santri pada memesan uthis yaitu puntung rokok, di jalan, dikumpulkan sampai satu kresek nanti dibawa pulang, sampai di pondok dibuka satu-satu dipisahkan tembakau dan kertas rokoknya. Aku mengambil kertas koran lalu membuat lintingan, dari korek kapuk kunyalakan kuhisap dalam dan asap pun bergumpal-gumpal keluar dari hidung dan mulutku, kadang kutiupkan asap sambil asap mengepul dari tembakau dan bau kertas koran yang terbakar, aku menengadah, sambil meresapi asap keluar dari mulutku, seakan suatu kenikmatan tiada tara, santri yang laen juga sepertiku.

Saat aku menengadahkan wajah entah untuk yang keberapa kali, kulihat melayang bayangan hitam di antara pohon kelapa yang banyak bertebaran, aku kaget sekali, jelas bayangan itu manusia yang melayang tak terlalu cepat, karena saat petang maka bayangan itu kelihatan hitam.Pagi belumlah terang, lereng gunung putri masih diselimuti kabut tebal, dingin masih menusuk tulang.

Di lereng gunung sebelah selatan, nampak berjejer kobong pondokan santri tak teratur. Sayup terdengar suara wirid para santri di bagian tengah pondokan, rumah bambu yang tak sederhana, dinding yang dianyam dari bambu dengan rapi. Juga alas hamparan dari bambu yang dipukul hingga pecah, kemudian dihamparkan dengan rapi, sehingga kalau diinjak kaki akan terdengar bunyi derit bambu yang khas.

Nampak para santri yang jumlahnya 15 orang duduk melingkar khusuk dalam wiridnya. Sang Kyai yang juga ada dalam lingkaran juga duduk bersila, orang tak akan menyangka mana Kyai mana murid. Sebab semua sama, hanya ketika Sang Kyai mengangkat tangannya dan wirid semuanya berhenti. Kemudian Sang Kyai menyuruh wirid yang lain, santri pun melanjutkan. Orang tak akan menyangka yang disebut Kyai ini seorang remaja, kira-kira umurnya 12 tahun, kulitnya putih bersih, dengan wajah biasa, namun memancarkan wibawa yang tiada taranya.

Presiden sekalipun akan dibuat tunduk bila berdiri di hadapannya. Di sebelah rumah Sang Kyai ada rumah bambu lagi yang lumayan besar, dindingnya dari kerai, yaitu bambu yang disisik halus kecil-kecil kemudian disusun rapi dengan tambang, sehingga bisa dibuka tutup dengan digulung, dalamnya juga beralaskan bambu seperti di rumah Kyai, nampak banyak orang lelaki tiduran dengan nyenyak.

Mereka ada sekitar 20 orang, kesemuanya lelaki.

kyai nur: begini dzikir laa ilaaha illalah agar mendapatkan malaikat pendamping

Karena tempat para tamu perempuan ada tempatnya sendiri. Para tamu ini bukanlah orang yang biasa-biasa.

Printmaking residencies 2020

Seperti pak Udin, yang seorang tentara yang punya kedudukan di angkatan udara. Pak Yusup yang seorang jaksa dari Jakarta, juga ada para pemilik perusahaan raksasa di Indonesia. Ada lagi yang aku tidak tahu, kata temanku dua orang menteri, seorang duta besar, juga ada artis, tukang cukur rambut, tukang es keliling dan lain-lain, semua tidur sama kedudukannya.

Scrape twitter without api

Siapakah sebenarnya Sang Kyai, akupun tak tau pasti. Kyai yang tuturnya lembut berkasih sayang kepada siapa saja. Pagi itu seperti biasa, mbok Titing, janda tua penjual sarapan pagi nasi uduk lewat di depan rumah Kyai.

Umur tua dan tubuh yang mulai bongkok ditambah rinjing di punggungnya yang penuh dengan nasi uduk bungkus diikat dengan selendang, tangan kanannya menjinjing tas krawangan berisi lauk pauk. Seperti biasa pula, nenek tua itu berhenti di depan pintu Kyai sambil menawarkan dagangannya, sekalipun dia tau bahwa Kyai Lentik tiap hari puasa, nenek itu hanya menunggu Kyai menjawab teriakannya menawarkan dagangannya, meser Kyai? Dan cuma itu jawaban Kyai, sudah membuat girang bukan main, dan segera berlalu, tersenyum bahagia dan tak sampai setengah jam dagangannya sudah habis ludes dibeli orang.

Nenek itu sangat murung, apabila dia menawarkan dagangannya di depan pintu Kyai, tapi Kyai ternyata pergi, itu baginya berarti perjuangan seharian menawarkan dagangan, dan itupun belum tentu habis, itulah tiap pagi yang terjadi di pondok Pacung, lereng gunung putri. Masih banyak kejadian yang kadang tak masuk di akal di balik kesederhanaan Sang Kyai. Waktu maghrib itu, santri yang menjalankan puasa, telah selesai berbuka dengan singkong rebus dan air putih, seperti biasa juga Kyai ikut berbuka dengan kami dengan beralaskan daun pisang singkong yang sudah masak dituang di atas daun pisang dan dinikmati bersama-sama sambil jongkok, tak ada yang istimewa, tak ada pecel lele Lamongan, rendang Padang, soto Madura, soto babat bahkan nasi pun tak ada.

Tapi tak pernah kami perduli, itu hanya makan, lebih baik makan apa adanya tapi untuk beribadah, daripada makan yang enak-enak ujung-ujungnya untuk berbuat maksiat. Setelah makan kami mengelilingi toples yang berisi tembakau, itu barang berharga kami, tembakau oleh-oleh dari Lukman yang pulang dari ngejalani ngedan, kami semua mengalami, yaitu pergi tanpa bekal, menyerahkan diri di kehendak Allah, pakaian compang-camping, sambil terus di hati mengingat Allah, berjalan kemanapun kaki melangkah, tanpa tujuan kecuali Allah, kalau lapar tak boleh meminta pada siapapun kecuali Allah, kadang mencari makan dari mengorek sampah, tidur kadang di hutan, sawah juga kuburan.

Nah, pada waktu itu setiap ada yang ngejalani, santri pada memesan uthis yaitu puntung rokok, di jalan, dikumpulkan sampai satu kresek nanti dibawa pulang, sampai di pondok dibuka satu-satu dipisahkan tembakau dan kertas rokoknya. Aku mengambil kertas koran lalu membuat lintingan, dari korek kapuk kunyalakan kuhisap dalam dan asap pun bergumpal-gumpal keluar dari hidung dan mulutku, kadang kutiupkan asap sambil asap mengepul dari tembakau dan bau kertas koran yang terbakar, aku menengadah, sambil meresapi asap keluar dari mulutku, seakan suatu kenikmatan tiada tara, santri yang laen juga sepertiku.

Saat aku menengadahkan wajah entah untuk yang keberapa kali, kulihat melayang bayangan hitam di antara pohon kelapa yang banyak bertebaran, aku kaget sekali, jelas bayangan itu manusia yang melayang tak terlalu cepat, karena saat petang maka bayangan itu kelihatan hitam.

Bayangan itu melintasi pohon jengkol di dekat dapur sebelah kanan rumah Kyai, lalu melayang dengan indah turun di depan rumah Kyai. Kami segera memburu ke arah orang itu, yang sejak tadi kami ribut menebak-nebak apa sebenarnya. Deg-degan kami menghampiri, ternyata bayangan yang terbang itu seorang wanita tua, rambutnya semua memutih, dia terbang menggunakan sajadah, jelas bahwa ilmu meringankan tubuhnya teramat tinggi, yang mungkin kalau sekarang kami tidak melihat dengan mata kepala kami sendiri, tentu kami akan menyangka ilmu seperti itu hanya ada di cerita silat, atau film di televisi, arahan imajinasi.

Kami semua melongo melihat perempuan itu melipat sajadah yang tadi digunakan untuk terbang, aku teringat kisah aladin, tapi ini nyata, perempuan tua tinggi kurus, berpakaian putih kusam ringkas membentak. Hai Kyai keluar! Aku kawatir perempuan tua itu ilmunya teramat tinggi, bagaimana nanti Kyai menghadapinya, setahuku Kyai tak punya ilmu kanuragan, juga tak pernah mengajarkan kanuragan, tapi memang kalau dipikir-pikir aneh juga, kami para santri, tak pernah dilatih kanuragan, ilmu silat apapun kami tak tahu, karena memang di pesantren Pacung ini kami hanya diajar bagaimana mendekatkan diri pada Allah, bukan lewat teori tapi praktek, bagaimana bertawakal, syukur, houf, rojak, dan bagaimana membersihkan hati dari segala sifat yang menjadi penyakit hati.Semua laporan yang masuk akan kami proses dalam hari kerja.

Kami mencatat IP pelapor untuk alasan keamanan. Barang siapa memberikan laporan palsu akan dikenakan sanksi banned. Baca info terupdate seputar virus corona di sini. TS gelandangan Newbie Posts: Assalamualaikum wr. Salam sejahtera semuanya. Mohon ijin untuk menceritakan ulang Kisah Sang Guru yg bermuatan banyak pelajaran Hikmah kehidupan yg bermuatan Religi, Supranatural dan Spiritual.

Chapter 1 : Chapter 2. Diubah oleh gelandangan Kutip Balas. Urutan Komentar Terlama Komentar Terlama. Komentar Terbaru. Cendol Terbanyak. Halaman 1 dari Kaskuser Posts: Btw ini kisah ditulis ulang ya.? Perasaan pernah baca di forum ini Betul gan. Untuk merefresh ulang dan lebih banyak yang ikut membacanya Lihat 1 balasan.

Youtube red mod apk

Mengambil data. Lihat balasan lainnya. Aku yang waktu itu membereskan gelas minuman, juga ikut heran, apalagi Iqbal.

kyai lentik

Karena memang Kyai belum menyentuh Iqbal sama sekali.Pagi belumlah terang, lereng gunung putri masih diselimuti kabut tebal, dingin masih menusuk tulang. Di lereng gunung sebelah selatan, nampak berjejer kobong pondokan santri tak teratur. Sayup terdengar suara wirid para santri di bagian tengah pondokan, rumah bambu yang tak sederhana, dinding yang dianyam dari bambu dengan rapi. Juga alas hamparan dari bambu yang dipukul hingga pecah, kemudian dihamparkan dengan rapi, sehingga kalau diinjak kaki akan terdengar bunyi derit bambu yang khas.

Nampak para santri yang jumlahnya 15 orang duduk melingkar khusuk dalam wiridnya. Sang Kyai yang juga ada dalam lingkaran juga duduk bersila, orang tak akan menyangka mana Kyai mana murid.

Sebab semua sama, hanya ketika Sang Kyai mengangkat tangannya dan wirid semuanya berhenti. Kemudian Sang Kyai menyuruh wirid yang lain, santri pun melanjutkan. Orang tak akan menyangka yang disebut Kyai ini seorang remaja, kira-kira umurnya 12 tahun, kulitnya putih bersih, dengan wajah biasa, namun memancarkan wibawa yang tiada taranya.

Presiden sekalipun akan dibuat tunduk bila berdiri di hadapannya. Di sebelah rumah Sang Kyai ada rumah bambu lagi yang lumayan besar, dindingnya dari kerai, yaitu bambu yang disisik halus kecil-kecil kemudian disusun rapi dengan tambang, sehingga bisa dibuka tutup dengan digulung, dalamnya juga beralaskan bambu seperti di rumah Kyai, nampak banyak orang lelaki tiduran dengan nyenyak.

Mereka ada sekitar 20 orang, kesemuanya lelaki.

kyai lentik

Karena tempat para tamu perempuan ada tempatnya sendiri. Para tamu ini bukanlah orang yang biasa-biasa. Seperti pak Udin, yang seorang tentara yang punya kedudukan di angkatan udara.

Pak Yusup yang seorang jaksa dari Jakarta, juga ada para pemilik perusahaan raksasa di Indonesia. Ada lagi yang aku tidak tahu, kata temanku dua orang menteri, seorang duta besar, juga ada artis, tukang cukur rambut, tukang es keliling dan lain-lain, semua tidur sama kedudukannya. Siapakah sebenarnya Sang Kyaiakupun tak tau pasti. Kyai yang tuturnya lembut berkasih sayang kepada siapa saja. Pagi itu seperti biasa, mbok Titing, janda tua penjual sarapan pagi nasi uduk lewat di depan rumah Kyai.

Umur tua dan tubuh yang mulai bongkok ditambah rinjing di punggungnya yang penuh dengan nasi uduk bungkus diikat dengan selendang, tangan kanannya menjinjing tas krawangan berisi lauk pauk.

Seperti biasa pula, nenek tua itu berhenti di depan pintu Kyai sambil menawarkan dagangannya, sekalipun dia tau bahwa Kyai Lentik tiap hari puasa, nenek itu hanya menunggu Kyai menjawab teriakannya menawarkan dagangannya, meser Kyai? Dan cuma itu jawaban Kyai, sudah membuat girang bukan main, dan segera berlalu, tersenyum bahagia dan tak sampai setengah jam dagangannya sudah habis ludes dibeli orang. Nenek itu sangat murung, apabila dia menawarkan dagangannya di depan pintu Kyai, tapi Kyai ternyata pergi, itu baginya berarti perjuangan seharian menawarkan dagangan, dan itupun belum tentu habis, itulah tiap pagi yang terjadi di pondok Pacung, lereng gunung putri.

Masih banyak kejadian yang kadang tak masuk di akal di balik kesederhanaan Sang Kyai. Waktu maghrib itu, santri yang menjalankan puasa, telah selesai berbuka dengan singkong rebus dan air putih, seperti biasa juga Kyai ikut berbuka dengan kami dengan beralaskan daun pisang singkong yang sudah masak dituang di atas daun pisang dan dinikmati bersama-sama sambil jongkok, tak ada yang istimewa, tak ada pecel lele Lamongan, rendang Padang, soto Madura, soto babat bahkan nasi pun tak ada.Gak mampu ane menela'ah cerita ini, mungkin ane lebih ke logika dan duniawi.

Yg penting tetep cinta dan kasih pada Allah SWT. Tapi ane tetep membaca sampe habiz. Gak mampu dalam artian lelakon yg di jalani sang tokoh sangat berat dan luar biasa, hanya orang pilihan diantara seribu berbanding satu.

Pacung maupun di sekitar Pasir Saketi, namun sampai sore hari tidak ada satupun orang-orang di Pandeglang yang mengetahui baik itu Pesantrennya maupun Desa Pacung ataupun Pasir Saketi, sy mohon kepada Penulis untuk mengklarifikasi apakah cerita ini hanya hayalannya saja atau cerita fiksi.

Jika memang benar cerita-cerita yang disampaikan kepada pembaca, kenapa sampai saat ini pertanyaan mengenai alamat jelasnya tidak mau disampaikan secara umum padahal banyak dari pembaca yang sangat membutuhkan bantuannya.

Sebagai umat Islam khususnya yang telah digembleng di Pesantren dan yang katanya sudah banyak membantu orang, kenapa tidak mau menginformasikan kebenaran ato jika memang benar ceritanya. Mohon maklum dan Wslkm. Saya sudah kesana Mas Dedy. Kalau turun di suatu tempat alamatnya dikasih tahu penulistanya saja ke tukang ojek, pasti tau dan diantar langsung ke alamat. Cuma nama yg dikenal bukan Kyai Lentik. Saya sempat bertemu dengan penulis yg sedang berada disana saat itu dan sekarang menjadi murid beliau hingga sekarang.

Sebaiknya hubungi FB penulis dulu Fb beliau sekarang : Ruhul Mustofa Alhusaini. Assalamu'alaikum, Saya dari Jawa Timur, saya ingin belajar, adakah nomor telepon atau alamat yang bisa dituju? Terima Kasih. Dado arirang rastamania 30 Maret Anonim 5 Mei Anonim 19 Mei Anonim 23 Juli Anonim 31 Juli Pada halaman ini, kami mempunyai informasi tentang kyai lentik gunung putri banten yang bisa Anda baca.

Perjalanan Sang Penguasa Alam JIN & KAHYANGAN

Anda juga bisa membaca kumpulan artikel lainnya seperti kyai lentik gunung putri banten yang Anda baca saat ini. Bila ingin menjadikan artikel kyai lentik gunung putri banten sebagai bahan kliping atau makalah, di sini anda bisa mendownloadnya secara gratis. Setiap orang mempunyai alasan dan kebutuhan tersendiri mengapa mencari artikel kyai lentik gunung putri banten di internet. Namun sayangnya, artikel kyai lentik gunung putri banten yang diminati oleh banyak orang ini sangat terbatas jumlahnya di internet.

Apapun alasan Anda untuk mencari artikel tentang kyai lentik gunung putri bantenyang pasti kunjungan Anda di situs ini tidak akan sia-sia karena di halaman yang Anda buka dan baca ini memuat konten artikel yang lengkap yang berkaitan dengan informasi tentang kyai lentik gunung putri banten yang sedang Anda cari. Harapan kami, Informasi tentang kyai lentik gunung putri banten yang disajikan di halaman ini bisa membantu Anda dalam mendapatkan informasi terkait dengan kyai lentik gunung putri banten.

Masonic novelty items

Home Posts tagged 'foto kyai lentik gunung putri'.


thoughts on “Kyai lentik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *